A Dream of Little Duck (Cerpen part-2)



Part 2

Pesawat yang aku tumpangi sedang lepas landas. Alhamdulillah pesawat yang aku tumpangi lancar sampai Jepang. Ku segera turun, tiba-tiba ada seseorang yang bertanya kepadaku. “Apakah anda Cici Nuraeni?”tanyanya. “ya saya sendiri, ada apa ya?”jawabku. “Saya yang menjemput pertukaran pelajar dari Indonesia.”jelasnya. Aku lalu pergi dengannya kesuatu tempat. “Ini rumah yang akan kamu diami selama kamu masih pertukaran pelajar disini, dan sekolah yang kamu akan belajar tidak jauh dari sini. Besok hari pertama kamu sekolah, akan dijemput oleh seseorang.”jelasnya. Aku lalu berterima kasih kepadanya.
Ternyata aku tinggal disini tidak sendiri ada dua orang perempuan. Mereka yang mendapat beasiswa ke Jepang. “Youkoso(Selamat datang!).”kata mereka berdua saat aku membuka pintu. “Arigatou gozaimas.”jawabku kepada mereka. “Doko kara kimashita ka? (dari mana asalmu?)”Tanya mereka. “Indonesia kara kimashita (saya berasal dari indonesia).”jawab ku. “Oh Indonesia, kami juga berasal dari Indonesia. Perkenalkan namaku Lestari biasa dipanggil Tari.”kata Tari. “Aku Viona.”kata viona. “Aku Cici, senang berkenalan dengan kalian.”kataku kepada mereka. “kami juga. Oh ya kamar kamu ada diatas.”kata Tari. “Makasih.”jawabku sambil membawa barangku.
Setelah sampai di kamarku. Aku segera menolpon kakakku bahwa aku sudah sampai di Jepang, setelah menolpon kakakku dan orang tuaku, Aku lalu membuka kotak yang diberi Sandi saat di bandara. Dalam kotak itu berisi syal dengan motif sakura dan sepucuk puisi. “Ii..in..ini kan puisi yang ada di madding sekolah yang pernah aku baca.”kataku yang sedang tekejut tak percaya, bahwa yang menulis puisi hati yang seputih salju dan sehangat sakura mekar adalah Sandi. Aku segera mennelpon Sandi. “San, aku udah sampai Jepang nih, San ternyata kamu yang buat puisi ini, makasih ya bagus banget puisinya. Makasih juga buat syalnya.”kataku kepada Sandi melalui telepon WA. “Iya sama-sama, jangan lupa dipakai ya.”kata Sandi. “Tentu San, akan aku pakai, meskipun disini lagi bukan musim dingin, tapi udara di sini lumayan dingin. Oh ya San bunga sakuranya bagus banget, aku ingin teriak disini, gak tahan, bagus banget. Tapi malu.”kata ku. “Hahaha, jangan teriak-teriak di negara orang, gak malu diliatin orang, ditunda aja teriakmu sampai kamu udah kembali ke Indonesia.”kata Sandi sambil tertawa.”Iya deh, terserah kamu. Udah dulu ya San, aku mau hubungi Vinda nih.”kata ku. “Iya”kata sandi.
Aku lalu menelpon Vinda. “Moshi..moshi.”kataku kepada Vinda. “Cici?ini cici kan. Gimana? Udah sampai jepang?”Tanya Vinda. “udah Vin”kata ku. “Ci tahu gak?”Tanya Vinda. “Ya enggak taulah. Memang ada apa Vin?”tanyaku. “Sandi tadi nanyain semua kesukaan kamu. Kayaknya dia suka sama kamu Ci.”kata Vinda. “Ya enggaklah, aku dan Sandi udah sahabatan, Vin udah dulu ya. Aku mau beres beres dulu.”kataku. “iya Ci, selamat beres-beres dan istirahat ya.”kata Vinda. “iya”kataku sambil menutup telepon.
Keesokan harinya mbak Tari memanggilku. “Ci, udah ada yang nunggu.”kata Tari. Aku segera turun. Ternyata orang itu adalah orang yang hendak menggantarku ke sekolah. Setelah sampai di depan pagar sekolah, ku segera masuk ke dalam sekolah. Ku lihat sekolah itu luas, bersih, ada taman yang asri ditumbuhi dengan bunga sakura. Dan ku lihat orang orang Jepang berkulit sangat putih terutama yang perempuan. Mereka juga cantik-cantik dan ganteng-ganteng.
Ku segera masuk ke kelasku. Dan berkenalan. Dengan teman teman yang ada di dalam kelas. “Hajiemashite watashi no Cici Nuraeni. Watashi indonesian desu. Yoroshiku onegaishimasu.”kataku member salam. Aku lalu disuruh duduk oleh guru.
Saat bel pulang sekolah aku segera pulang. Mungkin hari ini aku masih belum mendapatkan kawan. Saat ku langkahkan kakiku pulang, seorang perempuan menghampiriku. “watashi wa Sakura desu.”Katanya memperkenalkan diri. “Watashi wa Cici desu. O-meni kakarete ureshii desu (Senang berkenalan denganmu).”kataku sambil tersenyum. Iya membalas senyumku. “Hai. Ja, mata ashita (ya. Sampai jumpa besok).”kata Sakura sambil berlari.
“Akhirnya aku mendapatkan teman.”kataku dalam hatiku sambil tersenyum. Kulangkahkan kakiku menyusuri jalan menuju rumah. Setelah sampai rumah, aku segera masuk dan melakukan aktivitas seperti aku tinggal di Indonesia.
Keesokan harinya, aku bangun, sholat, dan mandi. Karena hari ini libur, ku akan berlari pagi di taman yang penuh dengan bunga sakura. Aku ingin memegang bunga sakura itu. Aku berangkat dengan membawa kamera untuk memfoto bunga sakura. Setelah sampai di taman ku melihat bunga sakura yang indah. Ku mulai memfotonya sambil berjalan. Tiba-tiba aku menabrak seseorang laki-laki. “Aduh, maaf ya. Eh.. Sumimasen.”kataku kepdanya. “Kau dari Indonesia?”tanyanya kepadaku. “Ya aku dari Indonesia. Udah ya. Sekali lagi maaf.”kataku sambil melanjutkan berlari.
“eh tunggu.”kata laki-laki itu sambil berlari mengejarku. Ku langsung berbalik badan. “ada ap?”tanyaku. “aku belum tahu namamu.”kata laki laki itu. “oh..Perkenalkan namaku Cici.”kata ku. “Namaku Dimas, aku blasteran antara orang Jepang dengan orang Indonesia. Aku sedang kuliah. Kalau kamu di sini juga kuliah?”Tanya Dimas kepadaku. “oh enggak. Aku disini pertukaran pelajar SMA.”kataku. “Senang bekenalan denganmu. Udah lama aku gak ketemu orang Indonesia.”katanya sambil tersenyum. Aku hanya tersenyum. “Oh ya mau kemana?”Tanya dimas. “Mau lihat bunga sakura sambil lari-lari.”kataku. “Kalau aku boleh saranin, kalau mau lihat sakura ditaman bunga sakura. Kalau disini bunga sakuranya sedikit.”katanya. “dimana itu? Aku tidak tahu tempatnya. Aku orang baru disini.”kataku. “ayo, ikuti aku. Aku juga mau kesana cari adikku. Ia suka main disana.”kata dimas. Aku pun mengikuti Dimas.
“Ini taman sakura.”kata dimas. “Wah…bagus banget..banyak bangt bunga sakuranya.”kataku dengan gembira. “Oh ya Ci, kesana yuk, itu ada adikku. Akan ku kenalkan kamu dengan adikku. Ketika Dimas memanggil adiknya. “Eh, Sakura-chan.”kata ku. “Cici-chan. O genki desu ka? (apa kabarmu?)”Tanya Sakura kepadaku. ”O kage desu (saya sehat).”kataku. “Kalian udah saling kenal?”Tanya dimas kepada aku dan Sakura. “Hai (ya)”kata Sakura. “ya, aku dan Sakura udah saling kenal. Kami satu sekolah. Oh ya, apa Sakura tidak bisa bahasa Indonesia kayak Dimas? Kalian kan adik kakak.”kataku. “Tentu aku bisa bahasa Indonesia. Tapi aku bisa sedikit sedikit.”kata Sakura.
“Itu sudah cukup bagus untuk kalian yang tinggal disini. Aku juga bisa bahasa jepang yang umum digunakan.”kata ku sambil tersenyum. Aku, Sakura, dan Dimas lalu berjalan-jalan ditaman, mereka banyak bercerita wisata yang bagus untuk dikunjungi selama aku disini. “Ci, makan yuk. Kamu mau makan apa?”Tanya Sakura kepada ku. “Ehmmm dari dulu sebelum aku ke Jepang aku ingin merasakan ramen langsung dari Jepang.”kataku. “baiklah, ayo kita makan ramen”kata Sakura sambil menarik ku dan Dimas masuk ke sebuah rumah makan. “Irasshaimase (selamat datang).”kata karyawan rumah makan tersebut. Sakura lalu memesan 3 mie ramen dan minuman.
“Wah ramennya udah datang, sepertinya enak.”kataku. “Ayo makan.”Kata Sakura kepadaku. Aku mengangguk. “selamat makan.”ucap kami bertiga serentak. “hmmm..Oishi (enak).”kataku. “oh ya, rumah kamu dimana Ci?”Tanya Sakura kepada ku. “Dekat, dari sekolah tinggal lurus terus belok kanan, udah sampai, cat warna krem.”jawabku. “Kapan-kapan aku boleh mainkan kerumah kamu?”Tanya Sakura. “oh boleh.”jawabku sambil tersenyum. “Kalian mirip dengan sahabatku yang ada di Indonesia lho.”kataku kepada Sakura dan Dimas. “benarkah? Siapa nama mereka?”Tanya Dimas. “Mereka bernama Vinda dan Sandi.”jawabku. Yang terpikir dalam otakku sekarang, sedang apa mereka? Aku merindukan mereka. Apa mereka juga merindukan aku?. Aku lalu membuka WA. Tiba-tiba ada telepon dari Vinda. “Halo Ci?”Tanya Vinda kepadaku melalui telepon. “Ya Vin, eh Vin ini ada teman baruku namanya Sakura dan Dimas.”kataku kepada Vinda. “Oh hai, aku Vinda, salam kenal. Eh Ci ini penting. Aku ngomong dulu!.”kata Vinda terburu-buru. “Ada apa Vin?”tanyaku. “Sandi…Sandi..”kata Vinda tergagap-gagap. “ya, Sandi kenapa, ada apa dengan Sandi?”tanyaku kepada Vinda. “Sandi kecelakaan.”jelas Vinda.
DEGG..Jantungku seperti berhenti, air mata tiba-tiba  mengalir di pipiku. “Bagaimana keadaan Sandi sekarang?”Tanya ku sambil menangis. “Iya lagi dirawat dirumah sakit.”kata Vinda. Telepon langsung aku matikan. Hatiku sedih, sahabat baikku sedang mendapat musibah. “Ci, yang sabar ya, ayo kita antar kamu pulang.”Kata Sakura menenangkanku. Aku hanya mengangguk. Mereka lalu mengantarkanku sampai rumahku.
Tok..Tok..Gomen kudasai (permisi). Mbak Tari lalu membukakan pintu. “Ci, kenapa kamu kok sedih gitu?”Tanya mbak tari. “Sahabat Cici yang di Indonesia kecelakaan.”jelas Dimas. “ayo kalau gitu masuk dulu.”kata mbak tari. Dimas, Sakura, dan aku kemudian masuk. “Mbak aku masuk kamar dulu ya.”kataku kepada mbak tari. Ku melihat mbak Viona yang keluar dari dapur menuju ruang tamu. Mereka lalu berbicara di ruang tamu. Entah apa yang sedang mereka bicarakan. Aku segera membuka pintu kamar dan berbaring di tempat tidur.
“Hah, jam 10 malam. Aku ketiduran.”kataku saat ku terbangun. Ku segera menuju kamar mandi untuk berwudhu kemudian sholat isya dan tahajud. Ku berdoa kepada Allah semoga sahabatku, keluargaku semua, dan aku di beri kesehatan. Setelah selesai sholat ku lalu membuka telepon, dan menelpon Sandi. “Halo…”kata mama Sandi yang menjawab teleponku. “Halo tante. Sandi Gimana keadaannya?”tanyaku. “Dia sedang tidur. Ini Cici ya?”Tanya mamanya Sandi. “Iya tante ini Cici. Sandi gak apa apa kan tante?”tanyaku. “Iya Sandi enggak apa-apa. Oh ya tadi Sandi pesan sebelum tidur kalau kamu menelpon, katanya Cici harus belajar yang sungguh-sungguh disana harus menjadi siswa yang cerdas, agar bisa membawa nama baik sekolah dan keluarga Cici. Jangan pacaran dengan orang Jepang karena di Indonesia sedang ada yang mennggu Cici.”itu pesannya Sandi sebelum tidur. “Iya tante. Tolong sampaikan pada Sandi kalau Sandi sudah bangun, Cici akan melakukan pesan itu.”kata ku.
Hari demi hari aku lewati dengan penuh semangat belajar. Setiap hari temanku Sakura selalu menghiburku. Ia pun mengajakku kerumahnya. Sekarang aku mempunyai banyak teman di Jepang. Di Jepang ini aku belajar hidup mandiri, belajar bergaul dengan masyarakat luar yang penuh dengan perbedaan yaitu budaya, bahasa, dan agama. Hanya aku di sekolahan yang beragama Islam. Kebanyakan dari mereka beragama Shinto. Meskipun begitu aku bangga dengan agamaku Islam, agama yang sempurna bagiku.
Di sekolahan aku juga telah mendapat cukup banyak penghargaan. Tidak terasa waktu pertukaran pelajarku telah habis. Ku berpamitan kepada semuanya yang telah mau jadi teman dan sahabatku. “Sakura, mbak Tari, Viona, Dimas aku pamit ya mau pulang ke Indonesia.”kataku kepada mereka di depan pintu dengan barang yang akan aku bawa pulang. “Ya, hati-hati.”jawab mereka. “Jaga kesehatanmu, sering WA aku ya kalu kamu telah sampai di Indonesia.”kata Sakura. “Hai (ya), Berkunjunglah ke Indonesia.”kataku kepada Sakura dan Dimas. Mereka mengangguk. “Ci kembalilah kesini.”kata Dimas.
“Aku akan kembali ke Jepang saat musim dingin, aku ingin merasakan salju yang turun. Aku juga akan mengaharumkan nama Indonesia di Jepang ini.”kata ku kapada mereka. Mereka mengangguk. Aku kemudian pergi ke bandara diantar oleh orang yang waktu itu mengantarku dari bandara ke rumah. Setelah sampai bandara, ku segera naik pesawat. Didalam pesawat ku pakai syal dari Sandi. Ku berharap Sandi baik-baik saja sekarang.
Alhamdulillah aku sampai di Indonesia dengan selamat. Mana yang menjemputku? Tanyaku pada diriku. Itu kan kakakku tapi mana ibu dan ayah? aku pulang bersama kakakku. Aku akhirnya sampai rumah. Tapi yang ada diperasaanku sekarang orang-orang tidak peduli dengan aku. Ku buka pintu rumahku. Assalamu’alaikum. Yang ada dipikiran aku sekarang kenapa sepi? Apa ibu dan ayah lagi pergi keluar kota. “Masuk Ci, ini mas udah bikini makanan kesukaanmu.”kata kakak ku kepadaku. Aku lalu memasuki ruang makan karena udah lapar. “Kok gelap Mas?”tanyaku.
Tiba-tiba lampu nyala. “Selamat datang Cici!”kata orang-orang disana. Kulihat ada ayah, ibu, Vinda, teman-temanku yang lainnya, dan ada Sandi. “eh, Sandi, udah sembuh?”tanyaku kepada Sandi. “maaf ya Ci, sebenarnya aku tidak kecelakaan. Itu untuk memacu semangat belajarmu.”jelas Sandi. “Apa!!!”jadi itu bohong. Kataku dengan marah. Mereka yang ada di sana diam seketika. “ya udah lah. Meskipun itu bohong. Itu berhasil memacu semangatku. Alhamdulillah Sandi tidak apa-apa.”kataku.
Kami tersenyum bersama. Akhirnya keinginan aku ke Jepang terwujud.
“Gimana disana?”Tanya Sandi. “Di sana ada Sakura dan Dimas yang selalu menghiburku.”kata ku. “Dimas? Kamu suka ya sama Dimas orang Jepang itu? Kan udah aku bilang. Jangan suka sama orang jepang, karena ada yang menunggu mu di sini.”kata Sandi. “Siapa?”tanyaku. “hmmm…Oh ya bagaimana kedepannya?”Tanya Sandi. “Aku akan kembali lagi ke Jepang, mungkin aku akan mencari beasiswa kuliah di Jepang. Aku akan ke Jepang ingin merasakan musim dingin, dan mengharumkan bangsa Indonesia di Jepang.”jelasku. “aku akan menjagamu. Aku juga akan kuliah di Jepang.”jawab Sandi.
Akhirnya keinginan itu tercapai. Sekarang aku di Jepang bersama Sandi. Kami telah tunangan, ternyata orang yang selama ini menungguku adalah Sandi. Di bawah pohon sakura ini aku bersama Sandi, Sakura, dan Dimas. Merasakan salju yang turun. Meskipun diriku kini merasakan dinginnya salju, tetapi hatiku merasakan kehangatan. Ternyata puisi yang di buat Sandi benar, Hati yang Seputih Salju dan Sehangat Sakura Mekar.

Hai.. Baca juga Impian part satunya  ^_^

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengenalan Tanaman Jagung (Zea Mays L.) – Taksonomi dan Morfologi

There are many advantages to cute tomatoes

Bingung Mulai Nulis Skripsi? Ayo Belajar Cara Penulisan Bab 1 dalam Skripsi