A Dream of Little Duck (Cerpen part-1)
Di tengah padang rumput yang luas di dekat rumahku. Ku
rasakan angin yang berhembus dengan lembutnya menerpa wajahku dan menerbangkan
rambutku yang bergelombang, aku ingat kembali mimpi yang dari kecil selalu ku
inginkan yaitu mengunjungi negara yang
penuh dengan bunga sakura dan salju. Ku ingat saat umur 8 tahun ku ingin berada
di daerah yang bersalju, ku menyukai salju, ku ingin memegangnya, merasakan
udara disekitar. Hingga sekarang, umurku 17 tahun, mimpi itu masih ada.
”sudah jam 4, aku harus pulang.” Ku segera menaiki
sepeda kayuhku menuju rumah. “Assalamu’alaikum, Ibu aku pulang.”ucapku sambil
masuk rumah. “udah pulang ci, udah mandi dulu sana.”ujar ibuku. “iya bu.”
Kring…kring… alarmku berbunyi pukul 3 pagi. Segera aku
bangun menuju kamar mandi untuk wudhu. Setelah itu ku sholat tahujud dan
meminta kepada Allah. Dan kulanjutkan sholat subuh setelah adzan berkumandang.
Setelah sholat ku membantu ibu. Lalu aku mandi dan menggenakkan baju putih
abu-abu.
“Ibu aku berangkat ya.”ujarku sambil mencium tangan
ibu dan ayahku. Setelah sampai di sekolah, ku bertemu dengan Sandi. “Ci,
selamat ya.”ujar Sandi yang membuatku bigung. “Selamat apa San?”ucapku. “Masak
kamu enggak tahu, kamu akan ikut pertukaran pelajar.”ucap Sandi. Aku langsung terkejut.
Segera ku langkahkan kakiku menuju ruang kepala sekolah. “Maaf pak, saya dengar
saya akan ikut pertukaran pelajar. Apa itu benar?”Tanya ku kepada kepala
sekolah. “iya betul, rencana 4 bulan yang akan datang.”kata kepala sekolah.
“Maaf pak, kalau boleh saya tahu dengan Negara mana ya?”tanyaku. “Dengan Negara
jepang.”ucapny. “Apa! Jepang! Bener pak, Jepang?” tanyaku. “iya kamu akn ke
Jepang.”kata kepala sekolah.”terima kasih pak.”kataku sambil mencium tangan
kepala sekolah. Segera ku masuk kelas dan siap untuk belajar.
Teng..teng….Waktunya pulang sekolah. Saat sampai rumah
kusegera masuk dan memeluk ibuku. “Ibu, aku akan ikut pertukaran pelajar di
Jepang.”kataku. “Iya? Kapan itu Ci?”kata ayahku yang tiba-tiba langsung
berbicara. “4 bulan yang akan datang.”kataku.
Keesokan harinya Sandi kerumahku.
Tok…tok..tok.”Assalamu’alaikum”. “Wa’alaikumsalam, eh nak Sandi mau bertemu
Cici ya.”kata ibuku. “Iya tante. Mau mengerjakan tugas kelompok.” Kata Sandi.
“Mari masuk. Tunggu sebentar ya nak Sandi.”Kata ibuku dengan lembut. “Oh iya
tante.”kata sandi.
“Ci kesini ada nak Sandi.”kata ibuku. “iya bu
sebentar,”kataku
“Eh sandi, mau minum apa?”tanyaku kepada Sandi.”Air
putih aja biar seger.”ujarnya sambil tersenyum. Aku menuju dapur dan membawakan
air minum dan beberapa camilan. “Eh, ci kan sebentar lagi kamu mau ke Jepang,
giamana perasaanmu?.”tanyanya.”Perasaanku seneng banget seperti mimpi rasanya
San. Aku sudah gak sabar pingin kesana, tapi rasanya 4 bulan yang akan datang
lama banget.”kata ku. “Itu karena kamu tunggu-tunggu jadinya kayak lama banget.
Oh ya kamu udah bisa bahasa Jepang? Kan kamu ke Jepang sebentar lagi, apa bisa
kamu belajar bahasa Jepang secepat itu?”tanyanya.”Sebenernya aku sudah suka
Jepang dari kelas 4 sd. Dan aku sudah mulai belajar bahasa jepang, ngapalin
huruf hiragana, katakana dari SMP udah lumayan lama aku belajar bahasa jepang.
Aku inginnya besok ke Jepang saat salju turun, tapi sepertinya tidak.”jawabku.
“Oh iya Ci. Saat kamu ke Jepang jangan lupain aku
ya.”pinta Sandi. “Ya gak bakalan aku ngelupain kamu, kamu kan sahabatku yang
paling baik.”Jawabku. “Sahabat?”Tanya Sandi.”iya. Kamu kan sahabatku.”jawabku. Sandi
tersenyum. Kemudian aku dan Sandi mengerjakan tugas kelompok bersama sampai jam
3 sore. Sandi pun berpamitan akan pulang.”San besok pulang sekolah mau gak
nganterin aku beli barang yang dibutuhkan untuk ke Jepang.”pinta ku kepada
Sandi. “oke.”jawabnya. Sandipun menghidupkan motornya dan pergi.
Keesokan harinya ketika aku berjalan menuju kantin
bersama Vinda. Aku melihat madding sekolah sebentar. “Eh, Vin ini puisinya
bagus banget ya tentang hati yang seputih salju dan sehangat sakura yang mekar.
Pasti orang yang buat puisi ini suka Jepang sama kayak aku.”kata ku. “Mana
Ci”Tanya Vinda yang masih mencari puisi itu. “ini disebelah atas.”jawabku
sambil menunjuk puisi itu. “eh iya bagus banget, kalau ikut lomba membuat puisi
pasti menang ini. Ya udah yuk ke kantin Ci. Aku udah laper.”Pinta Vinda. Kami
pun pergi ke kantin. Setelah Vina selesai makan, bel masuk berbunyi. Aku dan
Vinda segera menuju kelas.
Teng..teng..teng..Bel pulang sekolah berbunyi. Aku
yang pulang dengan jalan kaki menunju pemberhentian angkot. Tiba-tiba hujan
turun deras. Aku segera berteduh dibawah pohon sambil berdiri. “Ci ayo pulang,
lagi apa kamu disana, katanya mau beli barang untuk ke Jepang.”kata Sandi yang
tiba –tiba datang di depanku dengan motornya.”Lagi nunggu angkot San. Kamu
pulang duluan aja. Nanti setelah kamu pulang dan istirahat baru kamu kerumah
ku.”kataku. “Ayo bareng sama aku aja, kalau kamu nunggu angkot, pulangnya akan
lama.”kata Sandi. Aku hanya mengiyakannya.
Setelah sampai di rumahku. Hujan mulai redah. “Makasih
ya San, kamu udah ngaterin aku. Kalau kamu capek kamu gak usah nganterinaku
beli barang. Aku udah berterima kasih banget kamu udah nganterin aku pulang.
Maaf sampai kamu kehujanan.”Kataku.
“Santai aja kali. Gak papa kok, nanti aku tetep
nganterin kamu. Aku pulang dulu ya Ci.”kata Sandi. “Hati- hati ya San”. Sandi
lalu menghidupkan motornya dan pergi. Ku segera
masuk.”Assalamu’alaikum.”kataku. “Wa’alaikumsalam. Eh udah pulang Ci?, enggak
kehujanan?”Tanya ibuku. “Kehujanan bu.”kata ku. Ibu lalu menyuruhku untuk mandi
dan berwudhu untuk sholat. Setelah sholat. Beberapa jam kemudian, Sandi datang.
“Ci, udah siap.”Tanya sandi. “Udah sama keponakanku ya belanjanya.”kataku
sambil menggandeng keponakanku yang perempuan berumur 10 tahun bernama Danti.
“Perkenalkan mas, namaku Danti.”kata Danti sambil menjulurkan tangan. “Halo,
nama mas, Sandi.”kata Sandi membalas juluran tangan Danti. “Eh San, kita ajak Vinda
juga yuk. Biar rame.”kataku.
“oo..oh ngajak Vinda juga ya?”Tanya Sandi.
“iya”jawabku singkat. “ee.em ya udah yuk.”kata sandi lambat. Kami segera
kerumah Vinda. Setelah sampai di rumah Vinda kami segera mengetok pintu.
Tok..tok..tok.”Assalamu’alaikum”kataku sambil mengetuk pintu. “Wa’alaikumsalam,
eh Cici, Sandi, eh ada Danti. Hallo Danti”kata Vinda. “halo juga kak.”jawab
Danti.
“Vin kita mau belanja nih, ikut yuk”pintaku kepada
Vinda. “Maaf aku gak bisa Ci. Aku harus pergi ke rumah nenekku. Maaf ya.”kata Vinda.
“Oh. Gak papa kita ngerti kok, iya kan Ci?”kata Sandi dengan tersenyum. “eh
iya. Gak papa kok Vin aku nitim salam ya buat nenekmu. Ya udah Vin, kita mau
berangkat dulu.”kata ku kepada Vinda. “iya ci. Hati-hati ya.”kata Vinda.
Aku, Danti, dan Sandi pun segera pergi menuju toko.
Setelah berbelanja, Danti memintaku untuk bermain di taman. “kak kita ke taman
dulu yuk main jungkat-jungkit.”pinta Danti. “San, gak papa kan kalau kita main
jungkat-jungkit dulu.”kataku kepada Sandi. “iya gak papa kok. Lagian aku juga
udah lama gak mainan jungkat-jungakit. Mungkin ada 8 tahunan.”kata Sandi sambil
tersenyum. Kami pun bermain jungkat-jungkit dengan bergembira dan tertawa
lepas. Setelah kami puas bermain. Kami membeli es krim. “Ti, pulang yuk, kan
dah main.”pintaku kepada Danti. “Iya kak.”kata Danti. Kami bertiga pun pulang.
Setelah sampai dirumahku, aku berterima kasih kepada Sandi. “San, arigato
gozaimas.”kataku. “Santai aja kali.”katanya sambil tersenyum. Setelah mengobrol
lumayan lama. Sandi pun berpamitan pulang.
“Hmm, seminggu lagi pertukaran pelajar.”kataku pada
diriku sendiri.
Seminggu itu aku habiskan berkumpul brsama keluarga
dan teman, selain itu aku meminta doa restu kepada kedua orang tuaku,
keluargaku, dan teman-temanku.
Hari yang telah kunanti-nantikan akhirnya datang. Aku
telah mengemasi semua barang-barang yang aku butuhkan. Aku berangkat pagi hari
dengan orang tuaku dan kakakku yang datang jauh jauh dari luar provinsi hanya
untuk mengantarkanku ke bandara dan Sandi. Setelah sampai di bandara. “Ci bener
jangan lupain aku ya. Terima kasih telah menganggap aku sahabatmu.”kata Sandi.
“Iya San, Aku gak akan melupakan Sahabatku.”kataku. Sandi pun memberiku sesuatu
berbentuk kotak yang dibungkus dengan kertas berwarna merah cerah. “Apa
ini?”Tanyaku. “Untukmu.”kata Sandi.
“Makasih ya”.kataku Sandi pun tersenyum. Aku
berpamitan dengan ibu dan ayahku. “Bu, yah aku pamit ya. Doakan aku.”pintaku
kepada kedua orang tua ku. “Iya Ci ibu dan ayah akan selalu mendoakanmu.” Kata
ibu, begitupun dengan ayah.
“Mas, jaga ibu dan ayah ya, aku di Jepang hanya 3
bulan.”kataku kepada kakakku. “tenang Ci, aku pasti akan jaga ibu dan ayah.
Belajar yang pintar ya di sana.”kata kakakku sambil menepuk pundakku. “Iya
mas.”kataku kepada kakakku.
“Ci pulang kembali, ke Indonesia ya.”kata Sandi.
“Tentu San, aku kan WNI, aku juga cinta Indonesia.” Kataku kepada sandi. “Cici
pasti pulang ke Indoesia San, Kok kamu khawatir banget? Takut Cici seneng sama
orang jepang ya?”goda kakakku kepada Sandi. Sandi hanya diam. Dia seperti tidak
tahu mau bilang apa.
Aku lalu berpelukan sama ayah, ibu, dan kakakku. Aku
lalu bersalaman dengan Sandi. “Aku menunggumu di sini.”ucap Sandi lirih. “Apa
San? Aku …apa?Suaramu tidak jelas.” Kataku. Tetapi Sandi tidak mau mengulangi
apa yang dikatakannya. Dia hanya tersenyum ke arahku. Ku lalu masuk kedalam
bandara. Dan masuk ke pesawat.
Hai.. Baca juga
Impian part satunya ^_^
Komentar